Ghazi.Id| Maros – Maros Film Lab (MFL), salah satu program berkelanjutan dari Lembaga Latoa, hadir sebagai ruang belajar, diskusi, dan kolaborasi bagi para pelaku seni serta masyarakat umum di Kabupaten Maros. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026, di Caffe Baswara, Lingkungan Bontokapetta II, Kelurahan Allepolea, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, tersebut dihadiri lebih dari 71 peserta.
Berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 23.00 WITA, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan bagi para pegiat seni, komunitas kreatif, pemuda, dan masyarakat untuk bertukar gagasan, berbagi pengalaman, serta membuka peluang kolaborasi dalam menciptakan karya seni.
Maros Film Lab mendapat dukungan dari sejumlah lembaga dan komunitas seni, yakni Lembaga Latoa, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Maros, Lembaga Karuwisi, IKA Unhas, Ruang Rupa, Sanggar Seni Asea, Universitas Negeri Makassar (UNM) serta Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni yang terbuka, kolaboratif, dan berkelanjutan di Kabupaten Maros.
Dalam kegiatan tersebut, Olank Sukardi, selaku founder Maros Film Lab sekaligus pendiri Lembaga Latoa, hadir sebagai pemantik diskusi. Ia menjelaskan bahwa kehadiran MFL berangkat dari kegelisahan terhadap masih terbatasnya ruang kolaborasi bagi para pelaku seni untuk bertemu, bertukar pikiran, dan mengembangkan gagasan kreatif menjadi karya nyata.
“Maros Film Lab ini merupakan jawaban dari kegelisahan para pelaku seni, terutama terkait kurangnya wadah kolaborasi untuk membuat atau menciptakan ide-ide kreatif yang nantinya dapat diangkat dan diwujudkan menjadi sebuah karya seni,” ungkap Olank Sukardi.
Menurutnya, Kabupaten Maros memiliki potensi kreativitas dan kekayaan budaya yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya berbagai karya seni. Namun, potensi tersebut perlu didukung oleh ruang pertemuan yang memungkinkan para pelaku seni dari beragam latar belakang untuk saling belajar, berdiskusi, dan bekerja sama.
Ia berharap Maros Film Lab tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga berkembang sebagai laboratorium kreatif yang mampu mendorong lahirnya karya film maupun bentuk seni lainnya.
“Harapan kami, dengan adanya MFL ini, kita semua bisa belajar dan berkolaborasi dalam menciptakan karya seni. Bukan hanya berhenti pada diskusi, tetapi bagaimana gagasan-gagasan yang muncul bisa dikembangkan menjadi karya yang dapat dinikmati dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Karuwisi Dorong Keterlibatan Pemuda dalam Ruang Kreatif
Harapan terhadap keberlanjutan Maros Film Lab juga disampaikan oleh salah satu pendiri Lembaga Karuwisi yang akrab disapa Puang Cora. Ia menilai ruang-ruang kreatif seperti MFL perlu terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda di Kabupaten Maros, agar mereka memiliki kesempatan untuk belajar, mengembangkan potensi, dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah melalui jalur seni.
Menurut Puang Cora, seni tidak hanya menjadi ruang untuk mengekspresikan gagasan dan kreativitas, tetapi juga dapat menjadi sarana positif bagi generasi muda untuk mengambil peran dalam kehidupan sosial dan pembangunan daerah.
Ia berharap masyarakat, terutama pemuda, dapat memanfaatkan ruang-ruang kreatif semacam ini sebagai tempat belajar bersama, membangun jejaring, serta mengembangkan kemampuan yang nantinya dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan daerahnya sendiri.
“Harapan kami ke depannya, seluruh masyarakat umum, utamanya pemuda yang ada di Kabupaten Maros, mampu belajar di ruang-ruang kreatif seperti ini. Dari ruang tersebut, mereka bisa mengembangkan potensi diri dan kemudian memberikan dampak positif dalam membangun daerahnya sendiri melalui jalur seni,” ujar Puang Cora.
Lebih lanjut, ia berharap Maros Film Lab dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagaimana yang disampaikan oleh founder MFL dalam sambutannya. Menurutnya, konsistensi dalam menghadirkan ruang kreatif menjadi salah satu hal penting agar kegiatan tersebut tidak berhenti pada satu pertemuan, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan lebih banyak komunitas dan masyarakat.
Puang Cora juga menegaskan komitmen Lembaga Karuwisi untuk terus terlibat dalam mendukung dan menyukseskan kegiatan Maros Film Lab pada masa mendatang.
“Semoga MFL ini bisa kita laksanakan secara berkelanjutan, seperti yang disampaikan founder MFL dalam sambutannya tadi. Kami dari Karawisi juga berharap dapat terus terlibat dan bersama-sama menyukseskan kegiatan ini,” tambahnya.
Dukungan tersebut memperlihatkan pentingnya kolaborasi antarlembaga dan komunitas seni dalam menjaga keberlangsungan ruang kreatif. Dengan keterlibatan berbagai pihak, Maros Film Lab diharapkan dapat menjadi wadah bersama yang tidak hanya mempertemukan para pelaku seni, tetapi juga membuka akses belajar bagi masyarakat luas.
Dari Maros, Cerita Menjadi Karya
Kehadiran lebih dari 71 peserta dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang perjumpaan dan pertukaran gagasan di lingkungan seni dan komunitas kreatif Kabupaten Maros. Melalui forum semacam ini, para peserta diharapkan dapat membangun hubungan kolaboratif yang melampaui batas komunitas maupun disiplin seni yang mereka geluti.
Sebagai program berkelanjutan dari Lembaga Latoa, Maros Film Lab mengusung semangat “Dari Maros, Cerita Menjadi Karya.” Semangat tersebut menempatkan pengalaman masyarakat, identitas lokal, dan kekayaan budaya daerah sebagai sumber inspirasi dalam menciptakan karya yang memiliki nilai artistik sekaligus relevansi sosial dan budaya.
Melalui MFL, Lembaga Latoa bersama Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Maros, Lembaga Karuwisi, IKA Unhas, Ruang Rupa, Sanggar Seni Asea, UNM, serta berbagai unsur masyarakat diharapkan dapat terus memperkuat ekosistem kreatif di Kabupaten Maros.
Ke depan, Maros Film Lab diharapkan berkembang menjadi ruang belajar bersama bagi seniman, komunitas, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum. Sebuah ruang tempat gagasan dipertemukan, kreativitas dikembangkan, dan kolaborasi diwujudkan menjadi karya yang bermanfaat bagi masyarakat serta berkontribusi dalam membangun daerah melalui seni.(**)














