Ghazi.id, Makassar – Sebanyak 387 Jamaah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Maros resmi memasuki Asrama Haji Sudiang, Kamis 30 April 2026 pagi. Rombongan yang tergabung dalam Kloter 14 Embarkasi Makassar ini diantar ratusan keluarga dan kerabat yang tak henti memberikan doa serta pelukan perpisahan.
Pemandangan seragam biru dengan slayer putih tampak menyatu dalam barisan jamaah, menciptakan kesan kebersamaan yang kuat. Di balik senyum yang terukir, tersimpan kisah perjuangan panjang, salah satunya datang dari Ari, warga Bontojolong, yang akhirnya dapat menunaikan ibadah haji setelah menunggu selama 15 tahun.
“Penantian panjang ini akhirnya terbayar. Saya sangat bersyukur bisa sampai di titik ini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Namun, kebahagiaan itu tidak sepenuhnya utuh. Ari mengaku momen ini juga membawa rasa kehilangan mendalam karena kedua orang tuanya telah lebih dahulu berpulang. “Seharusnya ini menjadi momen yang ingin saya bagikan dengan mereka,” tuturnya lirih.
Setibanya di asrama, para jamaah langsung menjalani proses penerimaan di Aula Arafah melalui sistem pelayanan terpadu. Berbagai tahapan dilalui, mulai dari pemeriksaan kesehatan, pembagian uang saku (living cost), penyediaan akomodasi, hingga aktivasi kartu Nusuk sebagai identitas resmi selama berada di Tanah Suci.
Kehadiran Bupati Maros Andi Syafril Chaidir Syam bersama Wakil Bupati Andi Muetazim Mansyur serta jajaran Kementerian Agama Maros menambah kekuatan dukungan moral bagi para jamaah. Dalam sambutannya, Bupati Maros menyampaikan harapan agar seluruh jamaah dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan kembali dalam keadaan sehat.
“Semoga seluruh jamaah dapat menunaikan ibadah dengan khusyuk dan kembali sebagai haji yang mabrur,” ujarnya.
Di luar area asrama, suasana tak kalah ramai. Arus lalu lintas menuju lokasi sempat tersendat akibat tingginya antusiasme keluarga yang ingin mengantar orang tercinta. Namun, kepadatan tersebut justru menjadi potret kuatnya dukungan dan cinta yang mengiringi langkah para calon tamu Allah.
Momentum ini bukan sekadar keberangkatan, melainkan perjalanan spiritual yang sarat makna tentang harapan, pengorbanan, dan doa yang menyatu dalam setiap langkah menuju Baitullah.(**)














